Kilas Balik Mengenang Beliau - Befinda
Terbaru
Loading...

Minggu, 07 Agustus 2016

Kilas Balik Mengenang Beliau


Kata rindu yang selalu hadir saat memandang selembar fotonya, Selalu terenyuh mengingat seseorang yang berharga dalam hidup, seseorang dengan pengorbanan besar. Hingga kini masih saja meneteskan air mata saat memikirkannya.
 
Dialah seseorang yang berarti dalam hidupku. Tunggu, apakah Anda berfikir dia teman? pacar? atau justru mantan? Salah besar jika kalian menganggapnya itu. Lantas siapa? Dialah sosok wanita tegar, tangguh, dan kuat. Seorang deengan pengorbanan besarnya menjadi salah satu wanita istimewa dalam keluarga kami. 
 
Tepatnya tujuh tahun usiaku saat kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah atau setara SD dan saat usia kak Kevin kakakku masih sembilan tahun duduk dibangku kelas 4, juga sama di satu Madrasah Ibtidaiyah. Ibuku lahir pada 5 Mei 1975. Beliau sangat baik, ramah, dan sabar. 
 
Tidak sedikit kesalahanku kepadanya dia terima dengan penuh kesabaran. Senantiasa mengajarkanku sesuatu yang baik dan selalu menginspirasiku. Masih teringat di pikiranku pada tanggal 17 September 2006. 
 
Beliau melahirkan seorang adik bagiku dan kakakku diberinya nama Cahya Kamila Ravi pada saat itu ibu harus melahirkan secara prematur tepatnya hanya 7 bulan kehamilan. 
 
Dibalik kebahagiaan hadirnya adikku ada sebersit rasa sedih karena pada saat itu ibu juga menderita gangguan ginjal entah apa nama penyakitnya aku tidak teringat. Kami sekeluarga sangat menjaga benar-benar dek Cahya, karena kata dokter bayi prematur cenderung lebih rawan sakit. 
 
Selama kurang lebih 3 bulan Allah berkehendak lain, adikku menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Kami tidak kuasa menahan tangis terlebih ibukku seorang dengan jerih payahnya mengandung, melahirkan, hingga merawat serta menjaga selama beberapa purnama tidak henti-hentinya meneteskan air mata yang tidak sanggup melihat adikku ketika itu. 
 
Kehendak Tuhan yang tidak pernah bisa di kelak. Kami mencoba sabar dan tabah atas kejadian yang menimpa ini. Mungkin Allah lebih sayang dengan dek Cahya, memang disanalah tempat adikku yang lebih baik dan bukan disinilah tempatnya. 
 
Hari pun terus berlalu tanpa adanya isak tangis yang biasa menyelimuti keceriaan hari-hari di rumah kami. Tapi kami jalani terus apa yang terjadi sesuai ketetapan yang telah di tetapkan oleh Yang Maha Kuasa. 
 
Dari dulu ibu memang sudah menderita penyakit ginjal. Pernah suatu hari saat hari libur sekolah aku dan kakakku bermain di rumah saudara satu desa namun beda kampung. Aku dan kakakku bermain tidak mengenal waktu, kami sadar terlalu lama bermain karena takut terkena marah orang tua kami cepat-cepat untuk pulang, kakakku mengayuh sepeda memboncengkanku.
 
Sampailah kami di rumah. "Bu, ibu dimana?" ucapanku sambil menelusuri lorong-lorong rumah, kudapati bapakku duduk sembari membaca berlembar-lembar kertas, "Pak, bapak baca apa? kok sepi, ibu dimana pak?" tanyaku pada bapak yang sedang sibuk membaca. "Ini surat dari rumah sakit, Ibu sudah di rumah sakit dek" jawab bapak sembari memegang berlembar kertas di bacanya. 
 
Spontan aku mengatakan "kapan ibu ke rumah sakit? tadi ibu masih disini kan?” kataku sangat tidak percaya. Aku dan kakakku menangis seakan tidak percaya, aku memasuki kamar dengan memeluk bantal menutupi wajah sembari air mata mengalir deras di pipiku. 
 
Tidak lama kemudian bapak mengajakku untuk bersiap-siap pergi kerumah sakit. Aku kira kami bertiga pergi kerumah sakit. Tetapi bapak menghentikanku dan kakakku di rumah saudara yang tidak jauh dari rumah sakit. Bapak tidak ingin mengajakku ke rumah sakit bertemu ibu dengan alasan agar ibu bisa beristirahat. Bapak berjanji bahwa nanti malam akan menjemput kami. 
 
Detik, menit, dan jam terus berputar. Aku dan kakakku bersabar menunggu kabar ibu dari mulut bapak langsung. Bapak pun tidak bisa di kabari. Budheku pun menenangkan kami. “sabar, nanti bapakmu pulang. Kalian bermain saja dahulu" katanya.
 
Jarum jam telah menunjukkan pukul 9. Kabar dari bapak pun belum datang juga. Hingga kami telah tertidur lelap. Sampai pukul 12 tidak terduga aku bangun ternyata bapak belum pulang juga. Aku dan kakakku tertidur lelap lagi. Dan ternyata bapakku membangunkanku berkisar pada pukul 1 tengah malam. Banyak pernyataanku dan kakakku terlontarkan. 
 
Bapak hanya berkata bahwa dia harus menjaga ibu dan dokternya baru datang ketika malam hari katanya. Untuk menenangkan hati anak-anaknya ketika itu bapak membawa banyak makanan dan buah-buahan. Setelah kami tenang dan beberapa makanan telah kami makan kami pun tidur. Besoknya kami bertiga pergi ke rumah sakit bertemu ibu hingga ibu sudah sehat dan bisa kembali kerumah lagi.
 
Waktu terus berlalu memutari roda kehidupan tepat sehari sebelum ketiadaanmu masih teringat jelas di pikiranku. Tubuhmu sangat lemas, hingga sorenya engkau membeli dan meminum segelas jamu dari orang yang menjual jamu keliling setiap harinya didepan rumah. Ibu berharap setelah meminum jamu badannya akan terasa lebih segar. 
 
Tetapi hal itu bertolak belakang malam harinya tubuhmu semakin lemas. Pada waktu itu bapakku menghadiri acara tasyakuran di salah satu rumah tetangga sekampung. Aku dan kakakku disuruh ibu untuk memijat badannya. Aku dan kakakku tidak menolak permintaan ibu. Wajah ibu pun semakin lemas, entah kenapa pada saat itu kami kedua anak ibu menangis saat memijatnya entah apa nanti yang akan terjadi. 
 
Kami terus memijatnya seraya berkali kali bertanya "Ibu ini kenapa? Kok badannya lemas dan gemetar begini" tanya salah seorang dari kami kedua anak ibu. "Nanti ya bu, sebentar lagi bapak pulang" kata kata yang terus keluar dari mulut anak anak ibu yang polos belum dewasa dan belum mengerti apa sebenarnya yang terjadi saat itu, kami berdua hanya bisa memijatnya dan tidak sadar kalau kedua anak ibu telah membasahi pipi dengan air mata. "Ibu tidak kenapa-kenapa hanya tidak baikan saja" hanya kata kata ini yang terus keluar dari mutut ibu seraya menenangkan anak anaknya. Tidak beberapa lama kemudian bapak pulang dan langsung memijat si ibu. 
 
Malam itu berlalu, berganti pagi yang cerah dengan kondisi ibu telah sedikit baikan badan daripada kemarin. Aku dan kakak berangkat sekolah seperti biasanya. Pagi itu bapak berencana tidak berangkat kerja untuk menjaga ibu dirumah. Tetapi ibu berkata lain, "Bapak berangkat saja ibu sudah baikkan sudah tidak kenapa kenapa" kata ibu menganjurkan bapak untuk berangkat kerja. 
 
Awalnya bapak tetap berkeinginan tidak berangkat kerja, tetapi ibu berharap sekali agar bapak bekerja. Akhirnya bapak berangkat kerja atas keinginan ibu. Sebelum bapak sampai di tempat kerjaan bapak berhenti dan bingung untuk melanjutkan perjalanan ke tempat kerjaan atau pulang ke rumah karena khawatir dengan keadaan ibu. Setelah berfikir sesaat bapak melanjutkan ke tempat kerjaannya karena itulah keinginan dari ibu. 
 
Siangnya saat itu aku dan kakak pergi untuk sekolah diniyyah. Sekitar jam 3 lebih sedikit kami pulang dari sekolah diniyyah, dan aku pulang terlebih dahulu. Sampai di rumah aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi menghadiri doa bersama di MI dalam rangka tahun baru Islam 1 Muharram. 
 
Sebelum aku berangkat aku melihat ibu tidur lemas di kamar tidur, tidak beberapa lama kemudian ibu bangun aku di suruh membeli obat sakit perut di warung dekat rumah. Aku pun pergi untuk membelinya. Lalu aku kembali ke rumah di situ juga ada kakakku nenekku. Ibu kembali tidur aku dan kakak bersiap siap berangkat ke madrasah.
 
Karena pulasnya tidur ibu kakakku tidak ingin membangunkan ibu hanya sekadar pamitan karena akan pergi ke sekolah dengan alasan dia takut mengganggu tidur ibu. Dengan tingkah polosnya kakakku menyobek kertas dan menulis di secarik kertas itu yang intinya ia akan pergi ke sekolah untuk mengikuti do'a akhir tahun. 
 
Beberapa waktu lalu sempat kami temui kertas dengan tulisan acak-acakan itu di tumpukan berlembar-lembar kertas lemari rumah kami merasa terharu melihat benda itu dengan tingkah polos kakakku pada saat itu. 
 
Tidak lama kemudian sebelum menginjakkan kaki keluar rumah kami temui ibuku tidak berdaya terbaring lemas di kasur tempat tidur, embahku pun menangis kencang begitu pula kakakku. Aku yang tidak tahu apa-apa ikut menangis kakakku bilang "Ibu sudah meninggal dek" kata kakakku dengan isak tangis padaku, Aku melihat ibu sejenak yang sudah tidak berdaya itu. Aku pun langsung lari keluar rumah sembari teriak dengan derasnya air mata mengalir pada pipiku. 
 
Aku tidak percaya apa yang terjadi aku tidak sanggup melihat ibuku terbaring lemas tak berdaya, oleh karenanya aku keluar rumah dengan posisi jongkok dengan tangan menutupi wajah di pojok depan rumah serasa tak sanggup menerima kenyataan yang terjadi pada ibuku saat itu. 
 
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lalu aku dan kakakku berlari mengabari tetanggaku apa yang terjadi pada ibuku dengan tangisan terus menerus. Tetanggaku kemudian berdatangan kerumah salah satunya ada yang menelepon bapakku, bapakku sangat kaget mendengar kabar yang baru saja di dengar dari mulut tetanggaku itu. Bapak pun langsung cepat cepat pulang. 
 
Akhirnya bapak sampai ke rumah. Bapak hanya menangis sebentar. Dia sangat sedih tetapi ia menahan tangis agar anak anak nya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Rumah kami di kerumuni banyak orang dan terdengar lantunan surah yaasin dari orang orang yang ada di rumahku.
 
Besok paginya ibu diperistirahatkan ke peristirahatan terakhirnya kami pun ikut menghantarkan ibu ke rumah terakhirnya. Benar benar sedih melihatnya, tetapi ini memang kenyataannya ibu lebih baik ditempat sana. Aku dan keluargaku hanya bisa mendoakannya dari sini semoga ibu disana di beri kemuliaan oleh Allah. Aamiin ya robbal alamiin. 
 
Apapun yang terjadi harus tetap bersyukur atas pemberian Allah, Yakin bahwa semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Dan yakin Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Tetap semangat menjalani hidup dan bersyukur dengan semua apa yang terjadi yang diberikan Allah semua ini. Bismillah melangkah ke depan yang lebih baik.

Share with your friends

Notification
Halo, terimakasih sudah mengunjungi blog Befinda.my.id dan jangan lupa baca artikel lain disini.
Oke