Gerakan Tanpa Bubble Wrap Menuju E-Commerce 4.0 Berkelanjutan - Befinda
Terbaru
Loading...

Jumat, 19 Maret 2021

Gerakan Tanpa Bubble Wrap Menuju E-Commerce 4.0 Berkelanjutan

Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia. Mudah, cepat, dan praktis menjadi alasan utama perubahan ini. Era revolusi industri 4.0 menekankan pola Digital Economic yaitu transformasi dari perilaku ekonomi secara langsung menjadi serba digital. E-commerce menjadi daya tarik masyarakat dalam transaksi jual beli karena berbagai kemudahannya. Dengan adanya ini masyarakat tak perlu bertemu dan menghabiskan banyak waktu dalam transaksi jual beli.

Saat ini, pandemi corona masih melanda. Hal ini membatasi ruang gerak manusia. Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI telah merilis hasil studi terkait "Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik di kawasan Jabodetabek" yang dilaksanakan melalui survei online pada  20 April-5 Mei 2020. Dimana survei tersebut menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Jabodetabek melakukan belanja online yang cenderung meningkat. Dari yang sebelumnya hanya satu hingga lima kali dalam satu bulan, menjadi satu hingga sepuluh kali selama PSBB atau WFH.

 

Sebanyak 96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, buble wrap, dan bungkus plastik merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan. Bahkan pada kawasan Jabodetabek tersebut, jumlah sampah plastik dari bungkus paket online shop mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli.

Penggunaan plastik meningkat dari tahun ke tahun. Dilansir dari laman perpustakaan Emil Salim milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa  dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yaitu Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017, pada tahun 2018 ini diperkirakan jumlah sampah mencapai 66,5 juta ton dan pada tahun 2025 akan mencapai 70,8 juta ton. Sehingga dapat diperkirakan bahwa setiap orang dapat menghasilkan 0,7 kilogram sampah per hari.

Sesuai data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari total timbulan sampah, hanya 63% yang masuk ke TPA atau Tempat Pembuangan Akhir dan hanya sekitar 10% yang didaur ulang. Sisanya,  akan dibuang ke alam termasuk juga ke laut. Dalam catatan Kementerian Koordinator Kemaritiman, penambahan sampah mencapai 38 juta ton per tahun, dan terdapat 1,29 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut.


Mengacu pada tren data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, presentase sampah plastik akan meningkat menjadi hampir 30% pada tahun 2025 dan 60% pada tahun 2035. Sungguh ironis sekali bumi warisan nenek moyang kita biarkan begitu saja.

Perilaku e-commerce berdampak besar dalam menyumbangkan sampah plastik. Karena pengemasan barang dilakukan menggunakan plastik berlapis-lapis. Butuh puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan selamanya tidak akan terurai. Artikel ini fokus pada penggunaan buble wrap yang pada umumnya digunakan penjual untuk membungkus barang.

Saat ini, bubble wrap menjadi pilihan utama bahan kemasan untuk pengiriman. Bubble wrap dibuat bergelembung, transparan, murah, dan berfungsi untuk melindungi produk yang akan dikirim. Belum banyak masyarakat sadar akan dampak penggunaan bubble wrap bagi lingkungan. Namun perlu diketahui bahwa ternyata ada alternatif yang lebih ramah lingkungan dan sama efektifnya. Apa itu?

Artikel ini akan menawarkan alternatif lain dalam penggunaan bubble wrap. Yaitu dengan menggunakan bahan yang tentunya lebih ramah lingkungan. Bahan dari kertas dapat menjadi alternatif dalam penggunaan bubble wrap.

 

Kertas

Kertas bisa dimanfaatkan sebagai alternatif penggunaan bubble wrap. Tentunya penggunaan kertas lebih ramah lingkungan. Shredded adalah kertas yang sudah dipotong potong menjadi strip atau partikel yang lebih  halus. Inilah yang sama efektifnya dengan buble wrap. Kertas, kardus, karton bekas bisa dimanfaatkan untuk menjadi shredded kertas yang nantinya dapat digunakan untuk melindungi barang dalam kemasan.

Penggunaan kertas sangat tinggi pada masyarakat. Pada umumnya sampah yang sudah tidak terpakai akan dibuang begitu saja dan tidak dimanfaatkan. Walaupun kertas dapat di daur ulang namun jika pengelolaannya tidak bijak maka akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan.

Seperti pembakaran sampah kertas, yang tak sedikit masyarakat melakukannya. Sehingga kondisi ini akan meningkatkan pemanasan global. Sudut pandang terhadap sampah kertas seperti ini harus diubah. Karena sampah ini dapat dimanfaatkan kembali sebagai pengganti bubble wrap.

Adanya gerakan tanpa bubble wrap, menjadikan kertas sebagai solusi alternatifnya akan memandang limbah kertas memiliki nilai jual. Sehingga masyarakat bisa menjualnya kepada pengepul yang nantinya dapat diolah dan digunakan untuk pengemasan barang.

Gerakan tanpa bubble wrap dapat menjadi langkah awal dalam meminimalisir penggunaan plastik. Gerakan ini bertujuan untuk mewujudkan E-Commerce yang berkelanjutan. Walaupun terlihat sederhana namun dapat memberikan dampak besar jika dilakukan dalam lingkup nasional. Perlu kesadaran masyarakat untuk memulai gerakan ini.

Sehingga adanya tranformasi ini, pabrik kertas yang banyak menghasilkan limbah kertas dapat bekerja sama menjadikan limbah ini sebagai pengganti bubble wrap. Selain itu sebagai masyarakat biasa kita juga bisa ikut andil dalam gerakan ini. Salah satunya dengan mengumpulkan sampah kertas yang tidak terpakai dan menjadikannya sebagai shredded kertas. Sehingga nantinya akan bermunculan peluang usaha baru dan dapat membuka lapangan pekerjaan. 

Gagasan ini tidak berhenti begitu saja. Namun untuk mewujudkannya diperlukan keterlibatan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, e-commerce, produsen, dan konsumen. Pemerintah diharapkan mengeluarkan peraturan terkait pengunaan plastik dalam pengemasan barang. Selanjutnya pihak e-commerce dapat mendukung peraturan tersebut dengan mengkampanyekan gerakan tanpa bubble wrap dalam penngemasan barang. Sehingga nantinya penjual maupun jasa ekspedisi juga mengikuti ketentuan yang berlaku. Untuk konsumen diharapkan juga mendukung dengan mengkampanyekan gerakan tanpa bubble wrap. 

 

Ketika secara nasional gerakan tanpa bubble wrap ini dapat diterapkan, maka akan membawa dampak besar terhadap lingkungan. Secara  tidak langsung kita ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam. Dimana alam ini bukan milik kita, tapi milik anak cucu kita. Sehingga nantinya mereka juga dapat merasakan keindahan yang ada di alam.

Gagasan ini merupakan bagian dari  1000 Gagasan sebagai bentuk ajakan kepada publik untuk pembangunan yang lebih baik dan berkelanjutan. Perubahan besar terjadi dimulai dari perubahan kecil. Mari berjuang bersama untuk menjaga lingkungan semakin lestari.

Referensi:

http://perpustakaan.menlhk.go.id

Share with your friends

Notification
Halo, terimakasih sudah mengunjungi blog Befinda.my.id dan jangan lupa baca artikel lain disini.
Oke