Rusaknya Biodiversitas Pemicu Munculnya Pandemi COVID-19? - Befinda
Terbaru
Loading...

Sabtu, 10 April 2021

Rusaknya Biodiversitas Pemicu Munculnya Pandemi COVID-19?


Lebih dari setahun lamanya kita semua diuji dengan adanya pandemi covid-19. Tak hanya kita saja yang merasakan, seluruh penduduk bumi juga merasakan. Efek yang ditimbulkan dari pandemi sangat beragam. Mulai dari hilangnya pekerjaan, transformasi kegiatan dari offline menjadi serba digital, hingga dibatasinya mobilitas manusia. Sebagai mahasiswa saya juga mengalami efeknya yaitu perubahan pembelajaran dari tatap muka menjadi daring. Hal ini sangat menantang bagi diri saya. Tidak hanya saya saja, tentunya kamu semua juga merasakan efek dari pandemi bukan? 

Sampai saat ini belum ditemukan dari mana virus ini berasal. Pikiran saya bertanya-tanya tentang dari mana sih asal mula virus corona? Kamu pun juga bertanya-tanya bagaimana bisa manusia diserang virus corona? Hal ini memicu banyak spekulasi berkaitan dengan asal mula virus ini. Topik ini pun banyak dibicarakan dan dijadikan diskusi karena masih misteriusnya penyebab virus ini.

Peneliti dari penjuru dunia sedang berjuang untuk menyelidiki asal mula virus ini. Namun sampai saat ini belum ada titik terang berkaitan dengan penyebabnya. Spekulasi yang beredar sampai saat ini masih menjadi hipotesis saja. Spekulasi yang banyak dibicarakan yaitu virus corona berasal dari kelelawar. Ya mamalia yang hidup di malam hari, bisa terbang, dan tidur menggantung inilah yang diisukan menjadi penyebab munculnya virus corona. 

Salah satu penelitian yang mendukung spekulasi ini yaitu penelitian yang dipublikasikan oleh Nature Microbiology. Peneliti yang berasal dari Amerika Serikat, China, dan Eropa ini membandingkan pola mutasi SARS-CoV-2 dengan virus lain dan menemukan evolusi dari virus tersebut. Dikutip dari Fox news, peneliti tersebut menemukan garis keturunan yang menghasilkan wabah covid-19 pada kelelawar.


Hasil analisisnya menunjukkan bahwa kelelawar menjadi reservoir utama untuk garis keturunan SARS-CoV-2. Walaupun mungkin ada spesies lain yang juga bisa menjadi sumber penularannya, tetapi bukti tersebut konsisten dengan virus yang berevolusi pada kelelawar yang menghasilkan sarbecovirus kelelawar yang bereplikasi di saluran pernapasan bagian atas manusia dan trenggiling. 

Peneliti menjelaskan bahwa virus corona baru ini berevolusi dari virus kelelawar bahkan sejak 40 hingga 70 tahun lalu. Mereka juga menjelaskan bahwa tanpa disadari garis keturunan yang memunculkan SARS-CoV-2 sudah menyebar pada kelelawar selama beberapa dekade lalu. Kemiripan genetik SARS-CoV-2  dengan virus corona RaTG13 mencapai 96%. Virus corona RaTG13  merupakan virus ini sudah ditemukan pada kelelawar tapal kuda Rhinolophus affinis pada 2013 di provinsi Yunnan, China.

Selain penelitian ini, banyak penelitian lain yang mendukung kelelawar sebagai penyebab adanya virus corona. Lantas apa itu kelelawar? Kita tahu kalo kelelawar adalah hewan malam yang bisa terbang. Lebih tepatnya kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang bisa terbang dan berasal dari ordo Chiroptera dengan kedua kaki depan mengembang menjadi sayap. 

Kelelawar banyak dibicarakan oleh orang seluruh dunia sebagai penyebab pandemi covid-19. Lantas apa yang salah dengan kelelawar? Tidak adil kalo kelelawar disalahkan akan kondisi ini. Tidak ada yang salah dengan mamalia satu ini. Kelelawar hanyalah hewan yang sebatas melakukan aktivitas hidupnya.  Alih-alih menyalahkan salah satu spesies sebagai penyebab pandemi corona, pernahkah kita menilai bagaimana hubungan kita dengan alam? 


Sebagai manusia yang memiliki akal untuk berfikir, seharusnya dengan adanya pandemi seperti ini menjadi salah satu momen manusia untuk merefleksikan bagaimana hubungannya dengan alam. Karena virus zoonotik ini dapat dihubungkan dengan perubahan lingkungan dan perilaku manusia. Bisa saja virus ini tertular ketika manusia berburu satwa liar yang merusak habitat satwa tersebut sehingga virus dan patogen lainnya melompat antar spesies hingga manusilah yang menjadi inangnya.

Perubahan lingkungan karena ulah manusia perlu menjadi pembahasan serius. Karena siapa lagi yang merusak alam kalau bukan ulah manusia? Gangguan yang terjadi pada hutan alam sebagai habitat satwa liar dapat menyebabkan virus dan patogen dari satwa dapat tertular pada manusia. Gangguan tersebut diantaranya sebagai berikut :

Penebangan pohon

Kalo kita memiliki rumah sebagai tempat tinggal, begitupun satwa liar memiliki hutan sebagai tempat tinggalnya. Jika penebangan pohon dilakukan dengan tidak bertanggung jawab, lalu bagaimana nasib satwa liar?


Penambangan 

Pembukaan lahan penambangan dapat merusak hutan dan mengganggu habitat satwa jika dilakukan dengan tidak bertangggung jawab. Ketika hutan dijadikan sebagai lahan penambangan lantas satwa yang sebelumnya hidup di tempat tersebut dibawa kemana? Tentu penambangan dikhawatirkan dapat mengganggu keanekaragaman didalamnya.


Pembebasan lahan

Semakin bertambahnya penduduk bumi, kebutuhan akan lahan semakin meningkat. Hal ini mendorong pembebasan lahan untuk dijadikan perumahan, perkantoran, perusahaan, dan lain sebagainya. Pembebasan lahan yang tidak bertanggung jawab akan merusak keanekaragaman yang ada sebelumnya.


Perburuan satwa liar

Dibalik satwa yang punah terdapat perburuan liar yang semakin merajalela. Berdasarkan data Red List yang dirilis oleh Uni International untuk Konservasi Alam atau disingkat sebagai IUCN pada tahun 2020 terdapat lebih dari 35.000 spesies di penjuru dunia akan terancam punah. Termasuk 5 satwa dari Indonesia yang terancam punah. Hal ini sangat miris terjadi dimana manusia lebih mementingkan dirinya sendiri dengan mengorbankan satwa liar yang tidak berdosa.


Beberapa hal ini menjadikan manusia dekat dengan spesies hewan, sesuatu yang mungkin juga belum pernah terjadi sebelumnya. Didukung dengan urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang cepat menjadikan virus ini mudah tertular. Sehingga secara tidak langsung, hal tersebut menjadi faktor pendorong di balik meningkatnya jumlah penyakit baru yang berpindah dari satwa liar ke manusia.

Jika menilik sejarah, terlihat bahwa banyak penyakit muncul selama bertahun-tahun seperti SARS, Ebola, Zika, dan Aids yang semuanya itu berasal dari populasi hewan dalam kondisi tekanan lingkungan yang parah. Virus corona yang terjadi saat ini merupakan manifestasi dari hubungan yang tidak seimbang antara manusia dan alam yang menunjukkan perilaku destruktif manusia terhadap alam, yang ujung-ujungnya akan membahayakan manusia itu sendiri. 
 
Pemimpin World Health Organization, United Nations, dan World Wide Fund mengatakan bahwa kerusakan biodiversitas yang dikarenakan oleh manusia dapat menciptakan kondisi dimana virus covid-19 menyerang manusia. Sehingga berdampak luas ke penjuru dunia seperti apa yang sedang kita rasakan saat ini. 
 
Jangan menyalahkan satwa liar, namun sudah seharusnya melihat kembali hubungan kita dengan alam. Apakah sudah baik? Tidak ada kata terlambat untuk mencegah kemungkinan buruk yang dapat terjadi, karena wabah penyakit yang bahkan lebih mematikan bisa saja terjadi di masa depan. Hal tersebut bisa dicegah dengan menjaga ekosistem alam. 

Hal kecil yang bisa kita lakukan di era digital salah satunya yaitu dengan mengkampanyekan keanekaragaman yang ada di bumi. Misalnya dengan membuat konten tentang menjaga ekosistem. Secara tidak langsung dengan aktivitas ini kita dapat mencegah bahaya virus atau patogen dari satwa liar menyerang manusia.

Menjaga keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab semua orang di bumi. Siapa lagi kalo bukan aku, kamu, dan kita semua yang menjaga? Menariknya lagi ada salah satu perusahan Asuransi yang juga turut andil dalam berkontribusi menjaga keanekaragaman hayati. Dialah MSIG yang merupakan Perusahaan Asuransi Umum. Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda.


MSIG menyatakan terus berupaya untuk berkontribusi terhadap perkembangan masyarakat yang dinamis dan membantu memastikan masa depan yang sehat bagi planet kita, menciptakan keselamatan, dan ketenangan pikiran. Tak hanya itu saja, sebagai perusahaan asuransi yang melihat arti lebih dalam segala hal, MSIG telah menyadari bahwa perlindungan terhadap keanekaragaman hayati bersifat fundamental untuk mengembangkan ekosistem, karena ekosistem merupakan penyedia sumber daya vital seperti makanan, air dan obat-obatan. Oleh karena itu MSIG ikut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan demi masa depan yang berkelanjutan. 

Diketahui MSIG telah menjalin kemitraan dengan Conservation International Asia Pacific atau CIAP  dengan cara mendukung upaya konservasi di wilayah Asia Pasifik. Selain itu, mereka berusaha meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai keanekaragaman hayati dan alam. Bukan hanya untuk masa depan bumi, namun juga demi kesejahteraan hidup manusia, dan generasi mendatang.

Tiga tahun berkolaborasi, MSIG bersama CIAP akan menyediakan dukungan untuk berbagai upaya konservasi keanekaragaman sejati di Asia Pasifik, yang menyokong kesejahteraan hidup jutaan orang melalui air, makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan pengaturan iklim yang disediakan oleh ekosistem ini. Kemitraan kami bertujuan untuk berkontribusi terhadap konservasi sekitar 9.500 hektar hutan, yang setara dengan sekitar 13.000 lapangan sepak bola, dan 72.500 hektar lautan, suatu area yang lebih besar sedikit daripada wilayah Singapura. Menurut perkiraan mereka, upaya-upaya ini dapat membantu menghilangkan atau menghindari sekitar 4,7 juta ton emisi karbon yang setara dengan menyingkirkan sekitar 1 juta mobil dari jalan selama satu tahun. 

MSIG Indonesia berkontribusi terhadap upaya pemulihan hutan yang sedang berlangsung dari Conservation International, dalam proyek Green Wall, di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang terletak di bentang alam Gedepahala. Mereka menyediakan air segar bagi 30 juta penduduk yang tinggal di kota-kota sekitarnya, termasuk Jakarta. Kemitraan ini juga akan berkontribusi terhadap perlindungan Bird’s Head Seascape atau BHS, yang dikenal sebagai pusat global dari keanekaragaman hayati laut yang sangat penting bagi lebih dari 350.000 orang.

Selain itu, MSIG telah memberikan edukasi tentang keanekaragaman hayati melalui chanel youtube dan juga website nya. Saya sendiri  buktinya, setelah melihat program-program yang telah dilakukan MSIG dalam menjaga keanekaragaman hayati saya sadar akan pentingnya alam yang harus dijaga.

befinda.my.id

Speechless, dari sini saya sadar ternyata pengetahuan yang saya miliki tentang alam sangatlah kurang. MSIG telah memberikan banyak pelajaran berharga terkait dengan keanekaragaman hayati. Yang saya paparkan disini merupakan sebagian kecil kontribusi yang sudah dilakukan MSIG. Bagi yang ingin menambah wawasan terkait dengan keanekaragaman hayati bisa mampir di chanel youtube atau website MSIG Biodiversity. Karena disana banyak memberikan pengetahuan baru tentang alam.


Referensi :

https://www.msig.co.id/id/biodiversity

https://www.foxnews.com/

https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/28/130300823/rusaknya-biodiversitas-karena-ulah-manusia-picu-munculnya-covid-19?amp=1&page=2



Share with your friends

Notification
Halo, terimakasih sudah mengunjungi blog Befinda.my.id dan jangan lupa baca artikel lain disini.
Oke